Rabu, 21 Maret 2012

BUDAYA MENULIS DI PERGURUAN TINGGI: Antara Harapan dan Kenyataan

Isna Sulastri
FKIP Uninus


1. Pendahuluan
Kegiatan tulis menulis merupakan bagian tak terpisahkan dalam seluruh aktivitas belajar mahasiswa selama mereka menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pada setiap semester, sebagian besar dosen menugasi mahasiswanya untuk menulis karya ilmiah, antara lain berupa rangkuman, makalah, laporan buku, proposal penelitian dan beragam jenis tulisan lainnya. Pada saat mahasiswa mengikuti Ujian Akhir Semester ( UAS ), keterampilan menulis juga sangat diperlukan, terutama sewaktu menjawab soal-soal yang berbentuk esai. Bagaimana mungkin mahasiswa akan mampu meyakinkan dosen melalui lembar jawabannya, jika mereka tidak terampil merangkai kalimat yang bernalar. Di akhir masa studinya, mahasiswa pun masih dituntut mampu menunjukkan kemampuan menulisnya melalui kegiatan menulis karya ilmiah berupa skripsi atau tugas akhir terkait materi yang sesuai dengan bidang studi mereka masing-masing. 
Melalui kegiatan-kegiatan seperti itu, sebenarnya para dosen mengharapkan agar mahasiswa berupaya menunjukkan  kompetensi dan performansinya mengenai topik yang ditulisnya. Melalui aktivitas seperti itu diasumsikan dosen dapat membantu mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih tuntas tentang materi yang mereka pelajari selama di bangku perkuliahan. Benarkah demikian? Tentu saja jawabnya “ya” jika mahasiswa mengerjakan tugas dengan sesungguh hatinya, karena setiap karya ilmiah yang baik biasanya lahir dari proses mengamati, meneliti dan membaca beragam sumber bahan yang relevan dengan masalah-masalah yang akan ditulisnya, bukan hanya merupakan hasil renungan sesaat. Kecuali itu, untuk menghasilkan karya tulis yang baik, tentulah membutuhkan kepiawaian dalam merangkai kata hingga bermakna,  bukan?
Apalagi kini mahasiswa hidup di era kesejagatan. Surat edaran Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 yang mewajibkan mahasiswa menulis di jurnal ilmiah, tentu saja menuntut mereka  untuk terus memupuk dan menumbuhkembangkan keterampilan menulisnya, karena kelak karya tulis mereka akan dibaca oleh insan sejagat. Oleh karenanya, mahasiswa di era globalisasi ini diharapkan betul-betul siap berkompetisi dan berbagi karya dengan sesama melalui cara-cara yang terpuji, jujur, terukur dan transparan, sesuai etika keilmuan yang berlaku. Bertemali dengan ini, Bapak Djoko Santoso --selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi-- mengatakan bahwa bangsa Indonesia “ ... harus melahirkan orang-orang yang pintar menulis bukan pintar berbicara, karena kalau menulis tidak perlu berbicara sana-sini, tapi hanya menunjukkan bukti jurnal cetak atau online”. Terkait dengan ini beliau menegaskan bahwa, "Yang bikin karya ilmiah kan orang-orang pintar ... dan bangsa yang pintar adalah bangsa yang memiliki karya ilmiah dalam jumlah yang besar ( http://www.tempo.co/read/news/2012/ 02/23/079386041/ Jurnal Ilmiah-Mengubah-Budaya-Tutur-ke-Tulis. atau http://jendelailmumediauntuk berbagi.blog spot.com/ 2012_ 02 _01_ archive.html ).
Oleh karena itu, kegiatan copy-paste yang kini ternyata sudah mewabah  harus segera ditinggalkan, jika tidak ingin terkena resiko di kemudian hari  (bacalah kisah-kisah tentang plagiator dan resiko yang harus mereka tanggung). Terkait dengan info ini, Teten Masduki pun menegaskan bahwa “ ... kampus merupakan lingkungan pendidikan yang seharusnya menampilkan perilaku kebenaran, keadilan, serta kejujuran”  ( http://jabartoday. com/pendidikan/2012/03/02/0918/1935/ teten-masduki-pecat-pelaku-plagiarisme ).
Sebelum Anda terjangkiti oleh penyakit yang diderita oleh para plagiator itu dan untuk menjaga langkah Anda, sebaiknya baca dan pahami pulalah informasi yang terdapat dalam  http://turnitin. com/en _us/products/turnitin-suite. Setelah itu berkaryalah dengan menjunjung tinggi “kejujuran ilmiah”. Anda harus ingat, "sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali tentu akan jatuh juga". Kini, sudah saatnya bagi mahasiswa Indonesia untuk bangkit dan harus siap bersaing dengan mahasiswa sejagat dalam bidang tulis menulis ini. Julukan sebagai “Macan Asia” untuk Indonesia yang sudah lama terkubur, idealnya dapat diangkat kembali oleh kaum muda, antara lain mahasiswa. Ini tentu dapat dilakukan antara lain dengan menghadirkan karya tulis terbaik Anda, karena salah satu indikasi kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari produktivitas karya tulisnya yang tinggi.

2. Realita di Lapangan 
Perkuliahan Bahasa Indonesia  hampir selalu penulis awali dengan acara “curhat” tentang “Hal menyenangkan dan kurang menyenangkan selama mahasiswa belajar Bahasa Indonesia di jenjang sebelumnya, khususnya yang terkait dengan aspek menulis”. Program ini ternyata menarik bagi mereka. Dari kegiaan ini secara tidak langsung penulis memperoleh gambaran tentang model pembelajaran Bahasa Indonesia di jenjang sebelumnya dengan segala keunggulan dan kelamahannya sesuai kacamata mahasiswa.
Dari pengakuan mereka penulis mengetahui, ternyata kebanyakan mahasiswa merasa bahwa menulis kaya ilmiah itu merupakan beban tersendiri bagi sebagian besar lulusan SLTA. Beragam kendala dalam kegiatan tulis menulis mereka ungkapkan secara jujur. Mulai dari persoalan betapa sulitnya menemukan topik yang akan ditulis, sulitnya mengemas informasi dalam kalimat yang efektif, sulit mengembangkan topik menjadi paragraf yang baik, sulit merangkai paragraf menjadi wacana yang baik, sampai pada persoalan penggunaan bahasa yang rupanya masih menjadi kendala bagi mereka.
Beragam kesulitan itu ternyata masih dirasakannya sampai mereka duduk di peguruan tinggi, padahal sebelumnya mereka sudah belajar Bahasa Indonesia setidaknya selama dua belas tahun, jika dihitung mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai menamatkan pendidikannya di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Seusai mendengar curahan hati mereka, penulis biasanya meminta mahasiswa menulis sebuah paragraf di kelas. Ya semacam tes awal untuk mengukur performansi mereka di bidang tulis-menulis.  
Di samping ada karya yang sudah lumayan baik dan bernalar, ternyata sebagian besar memang sesuai dengan pengakuan mereka itu. Aneka kesalahan (error) dan kekeliruan (mistakes) ditemukan dalam tulisan mereka. Sebagai buktinya, pembaca dapat melihat realitanya dalam tulisan-tulisan  mereka, baik yang berupa komentar dalam blog ini ataupun melalui tugas yang dipublikasikannya dalam blog masing-masing (lain halnya jika mereka sudah mengeditnya). Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang salah dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia mulai dari SD sampai SLTA? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat layak untuk dikembangkan sebagai sebuah penelitian ilmiah yang insya-Allah akan bermanfaat bagi dunia pendidikan kita pada umumnya dan bagi pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya. Kecuali itu, realita tersebut tentunya juga menjadi alasan yang sangat berterima akan pentingnya perkuliahan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi yang oleh sebagian program studi sudah mulai ditiadakan.
Bagaimana pula dengan Anda yang membaca wacana sederhana ini? Apakah Anda tergolong pengguna bahasa dengan beragam kesulitan seperti yang dideskripsikan sebelumnya? Jika ya, dengan membaca tulisan ini, mudah-mudahan hati Anda akan terpanggil untuk meningkatkan kompetensi dan performansi di bidang tulis menulis. Dengan begitu, insyaallah  beban Anda pun akan berkurang. Tapi ingat! Harapan ini hanya dapat dicapai, jika Anda dengan kesadaran sendiri terus berupaya menguasai teori-teori kebahasaan dan berlatih mengimplementasikan teori-teori tersebut melalui beragam latihan yang ditawarkan oleh banyak pakar atau latihan yang Anda ciptakan sendiri.
Selamat mencoba! Semoga dengan kesungguhan belajar dan berlatih insya-Allah Anda akan merasakan bahwa:

menulis itu mengasyikkan, karena ...
menulis itu sesungguhnya mencurahkan isi hati.
Dengan menulis kita berbagi dengan sesama.
Dengan menulis secara tidak langsung kita beribadah.
Perlu kita sadari pula bahwa ...
menulis itu adalah saudara kembar membaca.

Buktikanlah!

Agar karya ilmiah Anda berterima di hati pembaca maka haruslah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan benalar sehingga enak dibaca orang. Mengapa demikian? Antara lain karena kita menulis karya ilmiah dengan maksud untuk berbagi ilmu dengan pembaca. Sebagai penyebar ilmu, terkadang kita juga  menulis dengan maksud untuk meyakinkan orang lain. Agar dapat meyakinkan orang lain, faktor bahasa dan gaya bahasa kita biasanya memegang peranan penting. Bahwa bahasa memang memegang peranan yang sangat penting, antara lain dapat dilihat dalam tulisan S.Effendi yang sengaja penulis kutip hampir seutuhnya dalam rangka berbagi dengan pembaca. Silakan lihat kembali topik sebelumnya yang berjudul, “BAHASA INDONESIA: Mengapa kita masih perlu mempelajarinya?” 
        Selamat berkarya. semoga bermanfaat. 
 
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, S.  (1995). Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya

fzf. (2012). “Teten Masduki: Pecat Pelaku Plagiarisme!”. Tersedia: http://jabartoday.com/pendidikan/ 2012/03/02/0918/1935/teten-masduki-pecat-pelaku-plagia- risme [7 Maret 2012]

Suryanis , Afrilia. (2012). “Jurnal Ilmiah Mengubah Budaya Tutur ke Tulis”. Tersedia: http:// www.tempo.co/read/news/2012/02/23/079386041/Jurnal-Ilmiah-Mengubah-Budaya-Tutur-ke-Tulis) [23 Maret 2012]

Turnitin.com. (1998-2012). “Prevent Plagiarism. Engage Students”. Tersedia: http://turnitin. com/en_ us/products/turnitin-suite [23 Maret 2012]


BAS Bandung, 22 Maret 2012
_____

11 komentar:

  1. Pembaca yang budiman
    terutama mahasiswaku yang terpelajar,

    Ibu menunggu komentar, kritik dan saran Anda terkait isi wacana di atas atau pun terkait wajah baru Rumah Maya Kita. Selamat menulis!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asalamuailakum ibu yang menyenangkan, Andien sudah membaca artikel yang ibu muat. Isinya sangat bagus,mudah difahami, dan bisa menjadikan contoh untuk mengerjakan tugas yang ibu berikan. Biasanya dosen memberikan tugas yang seprti ini kepada mahasiswa jarang memberikan contoh.
      Terimakasih Ibu, semoga cepat sembuh amin..... Andien selalu mendoakan yang terbaik buat Ibu....

      Hapus
  2. Waalaikum salam wr. wb.,
    Alhamdulillah, Andien menjadi orang pertama yang bekunjung ke RMK yang baru dipugar ini, semoga Anda merasa nyaman belajar sambil bemain di bawah pohon yang rindang itu, heheee.Syukurlah kalau Anda menyenangi isi dan bahasa wacana sederhana itu. Ibu doakan semoga Andien pun mampu menulis wacana yang lebih baik. Kalau orang lain bisa, insya-Allah Anda pun mampu.

    Bersemangat ya!
    Terima kasih atas atensi dan doa Andien.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat Ibu..... heheehh sama-sama Ibu, mudah -mudahan andien bisa menyelesaikan tugas ibu....

      Hapus
  3. Assalaamu'alaikum.
    Maaf Ibu, apakah kita diberikan kebebasan untuk mencari sumber atau kita membuat suatu karya ilmiah yang bersumberkan dari hasil pemikiran kita?
    Mohon jawabannya.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikum salam wr. wb.,
      Tati yang manis. Apakah hasil pemikiran sendiri dapat dipandang sebagai "sumber bahan"? Pelajari kembali teori terkait dengan ini ya. Pahamilah tentang (1) apa yang dimaksud dengan sumber bahan dan (2) apa saja jenis sumber bahan itu.

      Setelah itu tulislah karya ilmiah Anda dengan memanfaatkan sumber bahan yang relevan. Oke! Ibu tunggu karya terbaik dari Anda. Bersemangat!

      Hapus
    2. Assalaamu'alaikum,
      Kini saya sudah mengetahui bagaimana cara membuat daftar pustaka untuk tugas pertama "Mengapa Saya Masih Harus Belajar Bahasa Indonesia?". saya sudah memperbaikinya dengan merujuk pada tulisan terbaru Ibu Isna.
      Terima Kasih Ibu telah memberikan pengetahuan baru kepada sya :)

      Hapus
    3. Waalaikum salam. Bagus Tati. Itulah yang Ibu harapkan. Belajar melalui contoh ternyata lebih mudah mengimplemtasikannya ya. Tingkatkan terus kompetensi dan performansi Anda di bidang tulis-menulis ini ya.

      Selamat!

      Hapus
  4. "Sesungguh hatinya" kenapa tidak disatu-kalimatkan????
    Alasannya???

    Thx b4

    BalasHapus
  5. Naaah ... itu pertanyaan yang bagus Salmun. Diskusikanlah dengan teman-teman Anda, kemudian tulis penjelasannya di forum ini agar terjadi pembelajaran antar kita. Oke!

    Selamat beradu nalar, semoga Anda dan teman-teman berhasil berbagi jawaban yang ilmiah. Yuuuk ... bersemangat!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana dengan "disatu-kalimatkan" dan "ke-2-nya", Salmun? Sudah betulkah penulisannya?

      Hapus